Cagar Alam “Karamat Candi” Harus Tetap Lestari

CIMALATI – Salah satu aset berharga milik Desa Madusari adalah kawasan cagar alam yang dikenal dengan sebutan “Karamat Candi” di kawasan Candipura, RW 09 Dusun Cimalati. Cagar alam ini adalah tanah milik desa yang sudah ditetapkan sebagai kawasan yang tidak boleh dimiliki oleh perorangan dan hanya direntukkan untuk kepentingan masyarakat.

madusari - karamat candi candipura

Karamat Candi sendiri merupakan tanah desa berupa hutan seluas sekitar 10.000 m2, dimana di tengah kawasan hutan tersebut terdapat sebuah petilasan yang dipercaya warga sebagai petilasan tokoh penyiar agama Islam di Desa Madusari dari masa kadipaten Dayeuhluhur, ratusan tahun silam.

Karena itu, selain sebagai cagar alam, Karamat Candi juga sering dijadikan tempat ritual tahunan warga Cimalati, seperti sedekah kupat dan sebagainya.

Pada era awal 90-an, kawasan Karamat Candi dikenal rimbun karena terdapat banyak jenis pepohonan yang dibiarkan tumbuh besar berpuluh tahun, dihiasi semak belukar dan ditinggali beberapa puluh ekor kera. Warga dewasa hingga anak-anak, waktu itu cukup akrab dengan keberadaan kera di Karamat Candi.

“Dulu, waktu berangkat dan pulang sekolah, saya sering melihat monyet di Karamat Candi. Kadang takut sih, tapi kadang juga tidak, malah kalau pas bawa kacang atau gorengan, kita sering ngasih monyet-monyet itu makanan, mereka pun baik, tidak mengganggu orang yang lewat” kenang Supriyanto, salah satu warga kelahiran Madusari, yang saat ini tinggal di luar desa.

madusari - karamat candi candipura dibangun dinding tembok

Untuk melindungi kawasan ini, Pemerintah Desa Madusari pada tahun 2015 telah membangun talud di tepi selatan Karamat Candi, sepanjang sekitar 300 meter, di tepi jalan raya Madusari-Ciwalen. Hal tersebut mengingat strategisnya kawasan karamat candi yang berada di simpang tiga jalur alternatif yang menghubungkan kecamatan Wanareja dengan Dayeuhluhur.

Pemerintah Desa Madusari menyadari pentingnya pelestarian Karamat Candi sebagai kawasan cagar alam dan cagar budaya.

“Sayangnya saat ini puluhan kera itu sudah tidak ada lagi. Sebagian pohon besar yang ada di sebelah barat Karamat Candi juga sudah ditebang. Semoga karamat candi kedepan masih dapat dilestarikan, baik sebagai aset desa maupun sebagai cagar alam, kawasan resapan air yang rimbun dan rindang” ujar Yoes Sachri, Kepala Desa Madusari.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *